Minggu, 28 Juli 2013
Dalam Hening
Seharusnya dia yang menangis
Di antara mereka yang kini bercucuran air mata
Tak tahukah mereka?
Aku tahu
Dia menahan diri untuk menangis
Di antara tawa kesedihan yang samar aku melihatnya
Sungai kecil mengalir di guratan wajah itu
Lelaki tua itu menangis dalam diam,
Tersenyum pada kami
Disinilah kami berbagi kenangan
Dalam ruang hening tak terlihat
Di antara mereka yang hanya ingat sesaat
Ruang kubus satu jendela
Minggu, 28 Juli 2013
Kamis, 11 April 2013
Ada yang Hilang di Antara Kita
Ada yang hilang di antara kita, Sobat
Tapi kita tak berbuat
Ada yang hilang diantara kita
Tapi aku tak tahu bagaimana hilangnya
Terlalu terbuaikah kita dengan keadaan?
Atau takutkah kita dalam menghadapi persoalan?
Saat kusadari kita tak saling menatap
Tak lagi bernaung dalam satu atap
Karena hati ini berprasangka barang sejenak
Tanpa kusadari bayangan itu timbul dalam benak
Ada sesuatu yang kurindukan di antara kita,
Sesuatu yang hilang
Tapi kita tak berbuat
Ada yang hilang diantara kita
Tapi aku tak tahu bagaimana hilangnya
Terlalu terbuaikah kita dengan keadaan?
Atau takutkah kita dalam menghadapi persoalan?
Saat kusadari kita tak saling menatap
Tak lagi bernaung dalam satu atap
Karena hati ini berprasangka barang sejenak
Tanpa kusadari bayangan itu timbul dalam benak
Ada sesuatu yang kurindukan di antara kita,
Sesuatu yang hilang
untuk mereka yang kini terasa jauh
(Depok, 12 April 2013)
Sabtu, 23 Februari 2013
Reward for Today...
Assalamualaikum Wr. Wb.
maya kembali menulis... -__-
okay, ini blog memang random. /apa dah...
oh ya, hari ini Rohis sekolah saya ngadain acara untuk para anggota baru kelas 10. Alhamdulillah berjalan lancar, walaupun kami bertemu banyak rintangan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan acaranya. Memang kita ga bakal pernah bisa mengharapkan segala sesuatunya berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Karena hambatan itu pasti ada, walaupun tidak begitu signifikan dalam keberlangsungan suatu acara.
Saya sendiri dalam acara ini menemukan banyak sekali hambatan sejak persiapan acara. Namun dengan pemikiran, ini untuk kelas 10, Bismillah, ayo kita lakukan!
Sebenernya ide acara ini sendiri bersumber dari ngobrol ngalor ngidul yang kemudian tetep terbayang dalam hati hingga akhirnya bisa direalisasiin juga ide bersama itu. Haha... jadi udah jelas dong, postingan ini akan membahas soal apa?
Satu hal yang saat awal saya kira sangatlah berat yaitu bagaimana mengkomunikasikan hal ini dengan para Ikhwan. Saya tahu sebenernyakita ini satu tujuan, cuma emang cara berpikir kita aja yang jadang susah untuk disinkronisasikan. Tapi Alhamdulillah, hambatan pertama pun berlalu. Dan dimulailah rapat selama tiga hari dalam seminggu yang sangat membuat pipi saya melar karena susah nahan ketawa.
okay, skip saja bagian aneh itu.... Minggu kemarin-entah kenapa-merupakan minggu yang sibuknya setara dengan persiapan TA, sampai bener-bener pulang sekolah tuh makan, mandi beres-beres dan ketiduran. Dan akhirnya hari H pun tiba. Sejak kemarin feeling saya mengatakan bakal hujan dan hal-hal negatif lainnya, namun saya berusaha tahan supaya ngga bener-bener kejadian. Tapi akhirnya hujan juga sih... -_-
Tapi setelah saya evaluasi lagi, saya bersyukur pas acara berlangsung hujan, jadi terasa lebih bersemangat anak-anaknya :D
Briefing selesai dan acara pun dimulai. Tiap kelompok mulai mencari pos masing-masing dan saya sebagai paitia Masjid pun mulai mencari tugas apa yg bisa dikerjakan. Setelah membagi tugas dengan yang lain, kami pun mulai gerak dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Masalah demi masalah pun muncul, dan Alhamdulillah bisa diatasi dengan baik walau sempet bikin saya kesel sebentar.
Lepas waktu Zuhur, semua kelompok berkumpul di tempat saya dan disinilah mereka menyelesaikan satu tugas terakhir mereka yang Alhamdulillah, bisa diselesaikan oleh ke-16 peserta. Penutupan selesai, para peserta dan panitia pun mulai berfoto layaknya orang baru ketemu kamera. Bilangnya ga kerasa, lah, kurang bagus,lah daan lain-lain. Bukan saya kesel, justru saya sangat menikmati momen ini. Soalnya melihat mereka membelakangi Danau UI dan Rektorat dengan gaya mereka masing-masing itu sungguh sebuah kesenangan tersendiri bagi saya.
Mungkin kata-kata saya kurang bisa dimengerti, tapi memang begitulah. Kenapa saya suka memotret (apalagi candid) itu karena seakan jerih payah saya sedikit terbayarkan. Karena sebuah senyuman, atau bahkan ekspresi merengut yang murni itu bagi saya is an unforgettable moment...
Lewat acara ini juga, saya sedikit tahu prilaku adek-adek kelas saya. Dan saya berharap di tahun yang akan datang, mereka mengadakan acara ini lebih baik dari kami. Amin
See you next post!
Wassalamuaaikum Wr. Wb.
maya kembali menulis... -__-
okay, ini blog memang random. /apa dah...
oh ya, hari ini Rohis sekolah saya ngadain acara untuk para anggota baru kelas 10. Alhamdulillah berjalan lancar, walaupun kami bertemu banyak rintangan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan acaranya. Memang kita ga bakal pernah bisa mengharapkan segala sesuatunya berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Karena hambatan itu pasti ada, walaupun tidak begitu signifikan dalam keberlangsungan suatu acara.
Saya sendiri dalam acara ini menemukan banyak sekali hambatan sejak persiapan acara. Namun dengan pemikiran, ini untuk kelas 10, Bismillah, ayo kita lakukan!
Sebenernya ide acara ini sendiri bersumber dari ngobrol ngalor ngidul yang kemudian tetep terbayang dalam hati hingga akhirnya bisa direalisasiin juga ide bersama itu. Haha... jadi udah jelas dong, postingan ini akan membahas soal apa?
Satu hal yang saat awal saya kira sangatlah berat yaitu bagaimana mengkomunikasikan hal ini dengan para Ikhwan. Saya tahu sebenernyakita ini satu tujuan, cuma emang cara berpikir kita aja yang jadang susah untuk disinkronisasikan. Tapi Alhamdulillah, hambatan pertama pun berlalu. Dan dimulailah rapat selama tiga hari dalam seminggu yang sangat membuat pipi saya melar karena susah nahan ketawa.
okay, skip saja bagian aneh itu.... Minggu kemarin-entah kenapa-merupakan minggu yang sibuknya setara dengan persiapan TA, sampai bener-bener pulang sekolah tuh makan, mandi beres-beres dan ketiduran. Dan akhirnya hari H pun tiba. Sejak kemarin feeling saya mengatakan bakal hujan dan hal-hal negatif lainnya, namun saya berusaha tahan supaya ngga bener-bener kejadian. Tapi akhirnya hujan juga sih... -_-
Tapi setelah saya evaluasi lagi, saya bersyukur pas acara berlangsung hujan, jadi terasa lebih bersemangat anak-anaknya :D
Briefing selesai dan acara pun dimulai. Tiap kelompok mulai mencari pos masing-masing dan saya sebagai paitia Masjid pun mulai mencari tugas apa yg bisa dikerjakan. Setelah membagi tugas dengan yang lain, kami pun mulai gerak dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Masalah demi masalah pun muncul, dan Alhamdulillah bisa diatasi dengan baik walau sempet bikin saya kesel sebentar.
Lepas waktu Zuhur, semua kelompok berkumpul di tempat saya dan disinilah mereka menyelesaikan satu tugas terakhir mereka yang Alhamdulillah, bisa diselesaikan oleh ke-16 peserta. Penutupan selesai, para peserta dan panitia pun mulai berfoto layaknya orang baru ketemu kamera. Bilangnya ga kerasa, lah, kurang bagus,lah daan lain-lain. Bukan saya kesel, justru saya sangat menikmati momen ini. Soalnya melihat mereka membelakangi Danau UI dan Rektorat dengan gaya mereka masing-masing itu sungguh sebuah kesenangan tersendiri bagi saya.
Mungkin kata-kata saya kurang bisa dimengerti, tapi memang begitulah. Kenapa saya suka memotret (apalagi candid) itu karena seakan jerih payah saya sedikit terbayarkan. Karena sebuah senyuman, atau bahkan ekspresi merengut yang murni itu bagi saya is an unforgettable moment...
Lewat acara ini juga, saya sedikit tahu prilaku adek-adek kelas saya. Dan saya berharap di tahun yang akan datang, mereka mengadakan acara ini lebih baik dari kami. Amin
See you next post!
Wassalamuaaikum Wr. Wb.
Sabtu, 12 Januari 2013
Like Always, Some Story
Assalamualaikum Wr. Wb.
Finally,
mayaoreo here~
Hmm
let's see... Liburan kemarin sepertinya kurang dapat membantu saya dalam
me-refresh otak. Tapi saya suka dengan pengalaman yang saya dapatkan saat
liburan kemarin. /gaje
Kali
ini saya hanya ingin menulis mengenai apa yang saya dapat di sisa tahun 2012
dan awal tahun 2013 yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang kalau
tahun-tahun kemarin saya lewatkan bersama keluarga dan penuh rasa nyaman, kali
ini begitu berbeda.
Oke,
awal liburan saya yang emang udah ga bisa diajak nyantai karena tugas. Tapi
saya masih bisa menyempatkan untuk mengistirahatkan otak sehari di Tangkuban
Perahu. Yang Subhanallah, indah banget! Kalau kamera lagi ga dipinjem pasti
memory card udah penuh dengan foto-foto Tangkuban Perahu dan sunset serta
pemandangan Cikole yang sangat menginspirasi.
Tapi
tak sampai dua hari, saya kembali ke kehidupan saya yang artinya tugas sudah
menanti di depan mata untuk diselesaikan. Awalnya memang sedikit ogah-ogahan,
tapi inilah yang namanya tanggung jawab. Walau saya sendiri agak keteteran
dengan tugas yang diberikan ke saya, tapi Alhamdulillah selesai karena bantuan
teman-teman. Di minggu terakhir liburan, karena suatu hal saya harus
bolak-balik Stasiun UI-Kemayoran berkali-kali dengan kereta. Capek memang, tapi
itu semua terbayar dengan pelajaran yang saya dapatkan di kereta Commuter Line
jurusan Tanah Abang - Jatinegara itu.
Awalnya
saya kurang begitu ngerti dengan jalur-jalur kereta, kereta mana yang harus
saya naiki, dan kendaraan apa yang harus saya naiki setelah turun kereta dan
kemungkinan-kemungkinan lainnya agar saya bisa sampai di rumah lebih cepat,
karena saya jarang main ke daerah Kemayoran. Ke sana paling juga dengan mobil
pribadi, jadi rute-rute angkutan umum jarang saya perhatikan.
Di
saat orang-orang sedang enak-enaknya menikmati pagi jam 8, saya duduk di
metromini menuju terminal Senen. Kadang saya suka memperhatikan orang-orang
yang berjalan di sekeliling saya saat saya menuju metromini 01 yang nge-tem di
ujung terminal. Bagaimana kesan mereka tentang tahun lalu? Apa tiap tahunnya,
sekalipun di awal tahun, mereka tetap melewatkannya di terminal ini?
Di angkot, saya duduk tenang sambil
sesekali melirik HP. Beberapa menit saya perhatikan, ternyata saya salah naik
angkot dan bingung harus turun di mana, karena saya tak tahu harus naik apa
setelah ini. Untungnya Pak Sopir di depan sepertinya memperhatikan saya
yang mukanya tiba-tiba panik gitu. Setelah ditanya mau turun di mana dan fix
nyasar, saya segera turun dan berterimakasih udah diturunin di depan halte
busway. Kata Beliau, akan lebih cepet kalau naik busway, jadi tanpa pikir
panjang, saya segera membeli satu tiket.
Apesnya,
saya ga tahu busway warna apa yang harus saya naiki. Waktu itu saya ada di daerah
Kebon Kosong, dan gatau rute kendaraan dari situ seperti apa. Tapi setelah
melihat peta rute transjakarta, saya langsung berasumsi bahwa bus yang saya
naiki warnanya ‘biru’ tanpa ingat kalau ada dua jenis biru di transjakarta (menurut
saya). Dan saya sukses nyasar lagi dan
bukannya ke Ragunan. Setelah bertanya dengan tukang bakso yang lagi mangkal,
saya segera naik bajaj dan pergi menuju Stasiun Cikini, yang memang sedari awal
menjadi tujuan saya. Lucunya, saya sama sekali ga sadar ternyata selama
beberapa puluh menit yang lalu saya kira saya bakal nyasar jauh, ternyata sangat
dekat dengan tujuan saya. Setelah mengucap syukur Alhamdulillah, saya akhirnya
berangkat ke Depok.
Begitulah pagi saya yang bener-bener bikin
saya sport jantung, hampir tiap harinya hingga liburan selesai. Di
kereta juga saya disuguhi pemandangan yang sering dilihat penumpang kereta tiap
harinya. Bantaran kali yang sesak dengan rumah kardus dan kayu, Kali Ciliwung
yang hitamnya mungkin udah ga ada makhluk hidup yang bisa bertahan hidup dalam
air sehitam itu dan sampah di mana-mana. Belum lagi perbaikan rel yang memakan
waktu sehingga kereta harus berhenti bahkan bisa sampai dua jam lebih di dekat
Stasiun Angke. Itu pemandangan yang saya lihat beberapa hari terakhir ini dari
balik kaca kereta.
Di
dalam kereta pun saya masih menemukan beberapa hal yang membuat saya heran.
Kereta di malam hari arah Bogor yang penuh penumpang memang sudah biasa, tapi
yang tetap tak bisa menjadi biasa bagi saya adalah begitu saya lihat ibu-ibu
yang menggendong anaknya yang kira-kira berusia dua tahun yang tengah tertidur
berdiri! Tidakkah mbak-mbak kantoran atau mahasiswi di gerbong itu melihatnya?
Saya yang tak bisa berbuat apa-apa cuma bisa diam dan melihat mbak-mbak yang
duduk tanpa merasa kasihan. Dalam hati rasaya saya punya banyak kata yang ingin
disampaikan, tapi tentu mana ungkin saya melakukan itu?
Dan
saat petugas datang memeriksa karcis, saya segera berkata pada petugas karcis agar
ibu tersebut bisa duduk. Karena memang itu, kan, peraturannya? Bukannya tulisan
TEMPAT DUDUK PRIORITAS itu ada di tiap gerbong supaya gampang di baca? Apakah
karena alasan capek, kita bisa seenaknya mengabaikan peraturan yang berlaku?
Seharusnya tidak.
Akhirnya
setelah petugas melihat semua tempat duduk penuh, ada salah satu ibu yang mau
berdiri dan mempersilakan ibu tersebut duduk. Refleks, saya langsung merasa
lega dan tanpa sadar saya tersenyum sepanjang kereta berjalan sampai Lenteng
Agung dan dalam hati saya ingin menucapkan terima kasih pada ibu yang mau
mengalah tersebut
Mungkin
ini hanya sebuah hal sederhana yang menurut Anda biasa, tapi bagi saya, hal
seperti ini adalah luar biasa. Karena dalam keseharian saya yang sebenarnya,
hal ini jarang sekali terjadi. Satu pelajaran bagi saya dan kita semua, cobalah:
Buka
matamu lebih lebar untuk melihat, telingamu lebih peka dalam mendengar dan
hatimu lebih tajam dalam merasa, karena segalanya akan lebih bermakna dan
menginspirasi saat kita mengerti apa arti tiga poin di awal paragraf ini.
Semoga
apa yang tertulis tidak sekedar menjadi bacaan selingan, tetapi kita juga dapat
mengambil hikmahnya. Amin.
See
you! :)
Wassalamualaikum
Wr.Wb.
Sabtu, 17 November 2012
Untuk Dirimu Di Seberang Layar
Aaaalamu'alaikum Wr.Wb.
Jika kata-kata tak cukup menjangkaumu, cukuplah aku bisikkan ini padamu
Dengarlah ukhti...
Sudah sering kulihat kau berdiri di sana
Raut mukamu berteriak meminta tolong
Berkali-kali aku bertanya ada apa denganmu,
namun lidahmu berkata lain
Cukuplah kau merasa seperti ini,
Keluarkan sajalah apa yang tertahan di pangkal lidahmu
Mungkin aku bukan penasihat yang baik,
namun aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik
Jika kau butuh tempat untuk singgah
Katakan saja padaku dan aku akan dengarkan
—mayaoreo
Jika kata-kata tak cukup menjangkaumu, cukuplah aku bisikkan ini padamu
Dengarlah ukhti...
Sudah sering kulihat kau berdiri di sana
Raut mukamu berteriak meminta tolong
Berkali-kali aku bertanya ada apa denganmu,
namun lidahmu berkata lain
Cukuplah kau merasa seperti ini,
Keluarkan sajalah apa yang tertahan di pangkal lidahmu
Mungkin aku bukan penasihat yang baik,
namun aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik
Jika kau butuh tempat untuk singgah
Katakan saja padaku dan aku akan dengarkan
—mayaoreo
Jumat, 16 November 2012
Intermezzo
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
mayaoreo here~
Akhir-akhir ini tugas menumpuk, dan itu bener-bener bikin saya stress... Tapi bukan hanya karena tugas saya jadi begini, beberapa masalah di luar sekolah juga ada. Diantaranya mengenai keluarga dan beberapa teman lama saya.
Postingan kali ini mungkin hanya curhatan ga jelas saya aja, jadi maaf yaa... Yang saya tuliskan ini mengenai masalah saya di sekolah. Setelah minggu-minggu yang menyibukkan itu berakhir, masih ada beberapa tugas yang belum terselesaikan. Dan salah satu tugas diantaranya itu adalah yang paling berat. Masalahnya adalah, kelompok saya kurang bisa diajak kerjasama.
Saya sudah berusaha untuk mengambil inisiatif lebih dulu, namun jatuhnya mereka jadi terlalu bergantung sama keputusan saya. Bukan saya marah, hanya saja, saya ini juga manusia. Saya juga punya kegiatan selain ini dan saya juga punya masalah lain yang jauh lebih besar dari ini, jadi tolong bisa ngga, sih, kalian mengerti?
Tolong jangan berpikir setelah saya mengambil langkah awal, kalian hanya tinggal dapet instruksi dan selesai. Saya juga ga bisa tiap saat memikirkan tugas ini. Masih banyak hal yang lebih penting dari ini, jadi tolong setidaknya kalian bisa ambil inisiatif dan sadar kapasitas diri kalian di sini itu sebagai apa.
Kalau memang ngga merasa enak dengan keputusan saya, cukup kita bicarakan baik-baik dan cari jalan keluarnya. Lama-lama saya sendiri, kan, capek kalau begini terus.
Gimana Indonesia mau maju kalau generasi mudanya pasif dan menganggap enteng suatu pekerjaan yang sudah diamanahkan padanya? Bukankah itu hampir sama dengan para dewan terhormat yang diam-diam mengambil uang negara? Mereka mengaku kalau mereka ada di sana untuk rakyat, namun tergiur dengan gemerlapnya jabatan dan harta.
Sekian curhatan gaje saya. Yang ingin saya katakan hanya, kalau kita bekerja dalam sebuah tim, jangan cuek please! Kalau tugas anda sudah selesai, anda bisa bertanya pada ketua, "tugas apa lagi yang bisa saya selesaikan?" atau, "ada yang bisa saya bantu lagi, nggak?". Karena kalau kita sudah diamanahkan sesuatu dari orang lain, kita harus memberikan yang terbaik yang kita bisa pada orang tersebut.
That's all... See ya!
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
mayaoreo here~
Akhir-akhir ini tugas menumpuk, dan itu bener-bener bikin saya stress... Tapi bukan hanya karena tugas saya jadi begini, beberapa masalah di luar sekolah juga ada. Diantaranya mengenai keluarga dan beberapa teman lama saya.
Postingan kali ini mungkin hanya curhatan ga jelas saya aja, jadi maaf yaa... Yang saya tuliskan ini mengenai masalah saya di sekolah. Setelah minggu-minggu yang menyibukkan itu berakhir, masih ada beberapa tugas yang belum terselesaikan. Dan salah satu tugas diantaranya itu adalah yang paling berat. Masalahnya adalah, kelompok saya kurang bisa diajak kerjasama.
Saya sudah berusaha untuk mengambil inisiatif lebih dulu, namun jatuhnya mereka jadi terlalu bergantung sama keputusan saya. Bukan saya marah, hanya saja, saya ini juga manusia. Saya juga punya kegiatan selain ini dan saya juga punya masalah lain yang jauh lebih besar dari ini, jadi tolong bisa ngga, sih, kalian mengerti?
Tolong jangan berpikir setelah saya mengambil langkah awal, kalian hanya tinggal dapet instruksi dan selesai. Saya juga ga bisa tiap saat memikirkan tugas ini. Masih banyak hal yang lebih penting dari ini, jadi tolong setidaknya kalian bisa ambil inisiatif dan sadar kapasitas diri kalian di sini itu sebagai apa.
Kalau memang ngga merasa enak dengan keputusan saya, cukup kita bicarakan baik-baik dan cari jalan keluarnya. Lama-lama saya sendiri, kan, capek kalau begini terus.
Gimana Indonesia mau maju kalau generasi mudanya pasif dan menganggap enteng suatu pekerjaan yang sudah diamanahkan padanya? Bukankah itu hampir sama dengan para dewan terhormat yang diam-diam mengambil uang negara? Mereka mengaku kalau mereka ada di sana untuk rakyat, namun tergiur dengan gemerlapnya jabatan dan harta.
Sekian curhatan gaje saya. Yang ingin saya katakan hanya, kalau kita bekerja dalam sebuah tim, jangan cuek please! Kalau tugas anda sudah selesai, anda bisa bertanya pada ketua, "tugas apa lagi yang bisa saya selesaikan?" atau, "ada yang bisa saya bantu lagi, nggak?". Karena kalau kita sudah diamanahkan sesuatu dari orang lain, kita harus memberikan yang terbaik yang kita bisa pada orang tersebut.
That's all... See ya!
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Kamis, 01 November 2012
script untuk drama bahasa inggris
N: In SMAN
109 Jakarta, there was a student named Kevin. He was a delinquent student. He
usually skipped the class with his friends, Ayu and Ghina. Since first year,
his attitude had been so delinquent. It because of his parent was in a bad
condition. His parent often argued because of him. And his lovely sister was
sick.
Kevin: Hey,
guys! The next class will be very boring! How bout we skip and go to KFC?
Ghina: Good
idea, Kevin! I’m hungry too…
Ayu: Well,
you’re right! But… I don’t have money now… can you treat me? Please, Kevin…
Kevin:
Geez! Alright! I will treat both of you, satisfied?
Ayu &
Ghina: Yay! Thanks, Kevin!
Cliff: Hey,
where are you going to? The class will starts soon.
Kevin: I’m
passing. The teacher probably didn’t care about me too.
Cliff: You
can’t act like this Kevin! Think about your parent, they will be very
disappointed with you.
Kevin: Can
you please get out from people’s business? Let’s go guys!
N: And,
like what they always do every week, skipping the class, every class which they
didn’t like. The teacher always told about their habit to their parent, but it
doesn’t work. In Kevin’s case, his father would be very angry about the news,
and his mother would be calming his father. And it always frustrated Kevin.
In Kevin’s House
Father:
You, ungrateful child!! Why you always embarrassed Father like this?! Based on
your teacher’s report, you always skipping almost every class everyday! Why did
you do that?! Answer me! (stand in front of Kevin who sit in the sofa)
Mother: Oh,
dad… don’t be so hard to Kevin!
Father: No!
This child should be taught how to be a good man!
Mother: But
don’t shout at him. He is still your child!
Father: Just
shut up mom! This is your fault too, why Kevin becomes like this! (turned to face
the mother)
Mother:
This is not completely my fault! This is because of you too! You’re too busy
with your work!
Father: Oh?
So you blame his fault was because of me?!
Mother:
Yes!
Kevin: Oh,
please! Both of you just shut up! (Running to his sister’s room)
Sister’s Room
Kevin: Why they
always fight because of me? Geez!
Sister: What’s
wrong, brother? Have you got a warning letter because skipping the class again?
(chuckled)
Kevin:
Whoa! Sister?! Sorry, did I wake you up?
Sister: No,
brother. I was awake a few minutes ago.
Kevin: Oh,
right. So, how was your feeling now?
Sister: Umm…
fine. The pain is gone. But you don’t answer my question, yet, brother…
Kevin: Aah…
yeah. Father was angry at me… (pouted)
Sister:
It’s okay, brother. Everything will be fine, right? Aah… I really miss the
school… (coughed)
Kevin: Are
you really okay? (patted his sister’s back)
Sister: I am
fine… well, not really fine… the doctor said, if I can bear the pain for a week,
I can go outside!
Kevin: Haha! That’s good! If that so, I will
take you to my school, promise?
Sister:
Sounds good, brother. (smiled)
Kevin’s
mind: why my sister can’t get what she
wanted? She is so fragile now with the cancer inside her… and she can’t go to
school! I’m feeling ashamed about myself. I always skipping class, even my
sister really wanna go to school…
Kevin:
Okay, I will go back to my room, so you can rest again. Bye…
In School…
Ayu:
Morning, Kevin! Ghina! This is bad! Did you have finished your homework?
Ghina: Ah!
I forgot! How ‘bout you Kevin?
Kevin: Hmm?
Forgot it too.
Fariz: Hey!
The…………. is already collected the
homework. Have you done your homework?
Kevin,
Ghina, Ayu: No! And get out from our conversation.
Fariz: Come
on guys! You can’t always act like this! We were going to school for studying,
right? Think about your parent! Think about them who can’t go to school. Didn’t
you feel ashamed for?
(They
turned to silent, think about Fariz’s words. Fariz already back to his job,
collected student’s homework.)
Kevin:
Guys, did you think about Fariz’s words? Somehow I really feel like that. I
feel like we are doing something wrong…
Ghina: Umm,
yeah… Suddenly I remember my parent…
Ayu: Aargh!
It’s like I have done something terrible…
Ghina: Are
we really that bad…?
N: And they
already realised what was they fault. What was inside Kevin’s mind was his
sister. He thinks about his family and why his parent turned out like that. It
felt like he was not good enough to bring happiness to his family.
In Kevin’s House
Kevin: I’m
home… Hey, why do you guys look so sad? (stare at his mother and father)
Mother: Your
sister… she… she was fainted and…
(Kevin
harshly opened the door of his sister’s room and found his sister sleeping in
the bed)
Docter: She
is fine now. But the cancer maybe attacked her again.
Kevin: What happen to her, doc?
Docter: She was fainted this morning. All I can do is slow the growth of cancer. Last possibility is… she will
die.
(the doctor
left the room, leaving Kevin with his sister inside)
Kevin:
Sister, I’m sorry I can’t be a good brother to you… (hold his sister’s hand)
(Sister
opened her eyes, and stared at Kevin)
Sister: It’s
okay, brother. It’s not your fault…
Kevin: But
I’m always made you jealous of me. I can go to school, but you can’t. You
always wanted to go, right?
Sister: As long as you happy, I’m fine, really!
Kevin: I’m so sorry…. I promise that I will be a
good brother, so you can proud of me! (smiled)
(Sister snickering when she looked at her
parent opened her room’s door)
Father: Is that true son? (Kevin felt surprised
when he saw his father smiled at him)
Kevin: Well, I know it won’t be easy… but I will
prove it to you if I can be a good man. (grinning sheepishly)
Father: Alright son, all I want from you just
your determination to changed. That’s it. It’s okay if you’re not the best in
your class, the important thing is you’re already try your best to gained it.
Kevin: Thank you, dad. Someday I will made all
of you proud of me, I promised. (mother
and sister grinned happily. Father patted Kevin’s back and smiled)
N: so, that’s how Kevin resolved his problem.
Next Day…
Kevin: Morning, Ghina! Ayu! Have you studying trigonometry
for the test?
Ghina: Ah, mornin’ Kevin! Well, I’m doing it
right now… Can you teach me trigonometry? I’m trying to understand...
Ayu: Morning! Ghina asked me to teach her,
wanna join with us?
Kevin: Sure! (studying~~)
Fariz: Hey! Hmm… I feel something
different with you guys… since when you studying before test, huh?
Kevin: Come on! We’re going to improve our
grade and attitude now! You should be proud of us!
Cliff: What? Is that true? (appeared from
behind Fariz and smiled)
Ghina: Cliff, that’s not funny! We’re really
serious now! And the trigonometry test will begin in the first hour, we must
studying now, right?
Cliff: Ups, sorry. I’m just kidding, Ghina. (snickering)
Kevin: Well, we can studying together, can’t
we?
Fariz: Of course!
N: Now, Kevin, Ayu and Ghina become a good
student. They can increase their grades from the lowest to higher. Their
parents were really proud of their efforts. And just like the wise man said, ‘From
Zero To Hero…'
End
Langganan:
Postingan (Atom)